Karena saya punya idealisme. Makanya saya tidak takut di benci atau bahkan di diamkan. Malahan saya jadi tidak respek terhadap manusia yang ikut demo dengan alasan relasi. Cukup menyedihkan. Uji mental ya dimulai dari tidak mengikuti arus.

Saya tidak suka keributan. Saya lebih nyaman berargumen dengan santai. Tapi dengan pembahasan yang berat. Dengan catatan dengan orang yang pas. Makanya, semenjak adanya permasalahan Omnibus law, saya lebih sering membaca di Quora daripada media lain. Ngomong-ngomong, Saya lebih suka mengintimidasi orang yang ikut demo secara personal. Wawancarai mereka tentunya. Ya. Jadi kelihatan sih efek bandwagon menyelimuti tubuh mereka.

Saya sadar diri. Bagi saya demo adalah tanggung jawab yang berat. Coba bayangkan betapa malunya saya terluka ataupun tertangkap oleh pihak aparat dan saat saya di introgasi saya tidak punya jawaban yang berbobot. Masa saya jawab ' Karena DPR itu penghianat, buruh itu harus di perjuangkan'. Aku sangat malu jika diketawakan karena alasan polos yang mewakili kebodohan.. Takut terlihat Kebodohannya. Makanya saya perlu untuk memahami dan terus belajar, saya malu dengan almamater saya dan juga marga atau suku saya. Jauh merantau tapi tolol. Gak asyik kan?

Akhir-akhir ini saya suka mengamati dan refleksi diri. Sebenarnya terlalu sering demo bukanlah hal yang pas dijadikan prestasi. Apalagi saya simak, sepertinya pemerintah tidak respek lagi dengan demo yang ada. Bosan kata kasarnya. Orang setiap ada masalah, begitu mudahnya turun kejalan. Kelihatan banget jiwa komunalnya. Jadinya demokrasi yang ada Demokrasi " Lebay"

Tapi ngomong-ngomong, apa nanti HRD bakal tanya soal prestasi kita pernah ikut demo?


Baca Juga