Aneh juga kebanyakan manusia. Orang membeli rumah karena:

  • Merasa itu adalah kebutuhan pokok. Sandang, Pangan dan Papan. Padahal papan bisa disewa ga harus dibeli. Dulu orang memasak dirumah, sekarang menyewa pemasak alias jajan
  • Merasa kurang sreg kalau belum beli rumah. Merasa belum aman, kalau tidak punya rumah. Kalau di PHK, setidaknya punya tempat tinggal. Begitu alasannya. Padahal kalau kena bangkrut atau PHK, rumah juga bakal dijual. Jadinya ga punya rumah juga.
  • Bisa diwariskan. Padahal warisan bisa dalam bentuk lain.
  • Ngga ngerti itungan ekonomi dasar

Untuk yang terakhir ini yang paling penting. Orang ngga tau tentang rasio sewa/harga.

Menentukan mahal murahnya harga sebuah rumah, menggunakan sewa/harga. Berdasar inflasi atau suku bunga BI.

Suku bunga BI adalah 5% saat ini. Jika rasio sewa/harga lebih dari 5% artinya rumah sedang murah. Jika rasio sewa/harga kurang dari 5% artinya rumah sedang mahal.

Harga pasaran sewa rumah adalah indikator ekonomi paling riil. Mewakili kondisi ekonomi asli penduduk.

Sementara pasaran harga rumah lebih spekulatif.

Saat ini banyak rumah 1 M disewakan 5–20 juta pertahun. Berarti hanya 0.5–2% saja. Ini rendah. Artinya saat ini rumah sedang mahal.

Kenaikan harga rumah rata-rata adalah sesuai inflasi atau kenaikan ekonomi penduduk (GDP dan GDP percapita).

Oke kadang rumah naik 20% pertahun seperti 2010–2013. Tapi bisa juga harga rumah stagnan seperti 2013–2016. Rata-rata naiknya ya sesuai inflasi dan pertumbuhan ekonomi penduduk.

Jadi saat ini mending sewa dulu saja. Tapi uang yang seharusnya buat Uang muka dan nyicil, masukin reksadana.

Kalau uangnya buat jajan ya percuma.


Baca Juga