Pierre Andreas Tendean lahir di Jakarta 21 Februari 1939, dari ayah dr. A.L Tendean dan ibunya Cornet M.E berdarah Belanda-Prancis.[1]

Anak kedua dari 3 bersaudara dan satu-satunya anak laki-laki, dengan Kakak Mitte Farre, dan adik Rooswidiati.

Pada masa pendudukan Jepang, keluarga Tendean pindah ke Magelang, dan Pierre menghabiskan masa kecilnya sampai sekolah dasar.

Cita-cita menjadi tentara adalah impiannya sejak lama, karena semasa kecil Pierre sering menyaksikan pejuang ke rumahnya untuk meminta obat-obatan kepentingan gerilya.

Itulah yang membuat Pierre bertekad dan masuk Akademi Militer Nasional (AMN), namun di tentang keluarga karena keluarga ingin agar Pierre jadi dokter saja, namun Pierre bersikeras.

Bukan tanpa alasan, karena Pierre adalah anak laki-laki satu-satunya juga karena menjadi tentara penuh resiko mengorbankan jiwa, dan kelak kekhawatiran orang tua Pierre menjadi kenyataan.

Hanya kakanya yang setuju keputusan Pierre, dan untuk menghibur orang tuanya Piere masuk ke UI fakultas kedokteran.

Melihat hasil tes kedokteran Pierre gagal, akhirnya orang tuanya pun setuju, namun menurut sang kakak, Piere memang tidak mengerjakan soal tes yang akhirnya membuatnya gagal.

Selama di AMN, Pierre orang yang disiplin dan ramah, sehingga membuatnya di senangi senior dan junior. Pierre juga di kenal sebagai pribadi yang mempunyai jiwa kemimpinan dan menjadikannya Wakil Ketua Senat Korps Taruna.

Pada tahun1963, Piere yang berpangkat letnan dua, bertugas komandan peleton batalyon tempur 2, Kodam bukit barisan, Medan. Disinilah awal mula Piere bertemu pujaan hatinya.

Saat tidak dinas, Piere diajak temannya berkunjung ke rumah pak Chaimin, tokoh yang di hormati disana. Kunjungan ini berkesan ketika ia bertemu dengan Rukmini putri pak Chaimin.

Pierre yang cuek walaupun di gandrungi banyak gadis, kala itu menjadi tertarik kepada Rukmi, bukan apa-apa karena sikap sopan, ramah dan lemah lembut inilah yang membuat Pierre jatuh hati.

Sedangkan Rukmini jatuh hati kepada Piere bukan ketampanannya, tapi karena sikap humoris dan kecerdasannya yang membuat ia jatuh hati.

Kala libur Piere sering berkunjung kerumah Rukmini, namun cinta mereka yang beda agama sempat terhalang restu. Kemesraan mereka pun harus berlalu karena Piere harus menempuh sekolah intelijen untuk di tugaskan di operasi dwikora.

Usai menamatkan pendidikan, Piere di tugaskan memimpin pasukan relawan untuk penyusupan ke Malaysia berdasarkan surat perintah No. 507/11/1963.

Khawatir dengan keselamatan anaknya, ibunya yang dekat dengan mertua dari Nasution yang saat itu menjabat sebagai Menko Hankam/Kasab mengajukan penarikan tugas.

Ibunya juga mengajukan permohonan kepada Mayjen Deni Kadarsan, yang kenal dekat dengan Piere. Permohonan ibunya dikabulkan dan Piere di tarik.

Di tariknya Piere membuat ia jadi rebutan oleh para jenderal untuk menjadi ajudan karena kedisiplinannya dan juga kecerdasannya.

15 April 1965 Nasution berhasil "merebut" Piere, lalu pangkatnya naik menjadi letnan satu. Hal ini membuat orang tuanya lega karena Piere tidak lagi terjun ke medan pertempuran.

Hal serupa di rasakan Rukmini, karena tak lagi bertugas di operasi dwikora. Pada 1965, Piere merencanakan hubungan mereka di lanjutkan ke jenjang pernikahan.[2]

Piere menulis surat kepada keluarganya, meminta restu menikahi Rukmini, dan pada 31 Juli 1965 ketika ia mendampingi Nasution bertugas di Medan, Piere menyempatkan diri mampir kerumah Rukmini dan melamar. Hari pernikahan di sepakati pada November 1965.

Keseriusan Piere tidak main-main, maka untuk biaya pernikahan ia mengambil kerja sampingan menjadi supir traktor meratakan tanah proyek pembangunan Monas.

Ia juga mencari informasi kontrakan yang kelak ingin ia tempati bersama Rukmini dan anaknya.

Piere mengirim surat jika ia tak bisa pulang saat ulang tahun ibunya, dan berjanji akan mengucapkannya lewat telepon.

Pada hari G30SPKI, terjadi pengepungan rumah Nasution, Piere sedang tidak piket, ia menyerahkan tugas piket kepada komisaris polisi hankam Mansyur.

Mendengar bising tembakan, ia berinisiatif bergegas mengambil jaket dan senjata menghadapi pasukan Tjakrabirawa.

Karena ketidakjelasan informasi, Tjakrabirawa tidak mengenali Piere dan mengira ia adalah Nasution. Dan ia di bawa ke lubang buaya untuk di eksekusi.

Malam ulang tahun ibunya, menunggu dengan cemas telepon dari anaknya. Naas malam itu adalah kado terburuk sepanjang hidupnya, yaitu kematian sang anak.

5 Oktober 1965, pemerintah mengirim pesawat menjemput keluarga Piere untuk melihat peti mati anaknya.

Sambil menangis ibunya berkata

"Piere , Piere mijn jongen was er Met jou gebeurd". (Piere, Piere anakku apa yang terjadi padamu).

Sepeninggal anaknya, Cornet selalu memesan bunga anggrek untuk menutupi seluruh makam anaknya, pada 19 Agustus 1967 ia wafat, sebelum ia wafat, Cornet berpesan bahwa ia ingin jenazahnya di tutupi dengan selimut milik Piere.

Sementara itu Rukmini harus mengubur rencan pernikahan dengan Piere, prosesi lamaran waktu itu menjadi pertemuan terakhir sebelum tragedi 30 September.

1967 saat perayaan hari kesaktian Pancasila, tangis Rukmini pecah mengingat kekasihnya, dan Soekarno memeluk menenangkan Rukmini.

Butuh 5 tahun bagi Rukmini untuk bangkit dan menikah dengan pria lain, untuk informasi Kematian Piere tidak seperti yang di filmkan dan di informasikan oleh orde baru.

Hasil otopsi jenazah Kapten Piere Tendean ketika jasadnya diangkat dari lubang buaya.

Luka tembak :

  • 2 dada kanan.
  • 2 punggung kanan.
  • 1 leher belakang sebelah kiri.
  • 1 pinggul kanan.

Luka pukulan :

  • 1 di kepala kanan.
  • 1 di tulang ubun-ubun kiri.
  • 1 di puncak kepala.

Rest in peace, soldier!



Baca Juga