Sebelumnya dilihat dulu tingkat inflasi dari 2016 ke 2019 yang relatif stabil di angka rendah 2–3,5%, ini berefek pada stabilnya daya beli warga, tidak tergerus oleh turunnya nilai mata uang rupiah. Ini bisa dilihat sebagai prestasi, apalagi peningkatan upah kerja di atas nilai inflasi nasional serta penurunan suku bunga bank, yang ikut menambah daya beli warga. Bank Indonesia nampaknya cukup percaya diri buat menurunkan suku bunga acuan sampai 4x berurutan. Suku bunga bank turun ini buat mendorong orang melempar uangnya ke perdagangan riil sih (dari sebelumnya cuma disimpan di bank), ini harapannya ya.

2018–2019 juga rasio penduduk miskinnya berkurang drastis, ini tentunya efek tidak langsung dari kemampuan pemerintah mengendalikan turunnya nilai mata uang (inflasi nasional).

Angka kesenjangan ekonomi, rasio gini, juga menurun, ini bagus. Hanya saja ini dinilai dari angka konsumsi ya, bukan angka kekayaan. Kenapa? Ya karena lebih mudah mendapatkan angka konsumsi perkapita daripada angka kekayaan perkapita nasional.

Tetapi, ini jadi membuka rahasia sih, kalau kesenjangan kekayaan (bukan kesenjangan konsumsi ya), Indonesia termasuk peringkat ketiga level kesenjangan kekayaan. Dari data Credit Suisse Global Wealth Databook (2018), Level kesenjangan kekayaan perkapita di Indonesia peringkat ketiga, nomor satunya bisa ditebak kan? Rusia. 1% penduduk terkaya di Indonesia menikmati 44,6% dari total kekayaan nasional.

Kok bisa konsumsi tidak senjang tapi kekayaan (wealth) senjangnya setinggi itu ya? Ya kemungkinan besar orang-orang kaya di Indonesia memang hidupnya sederhana (haha!), atau belanjanya ke Singapura-Hongkong, tidak gemar menampakkan diri sebagai orang kaya, sangat terlatih menjaga diri dengan tidak tampil kaya namun cerdas memilih instrumen pemutar modal yang efektif (kalau ada yang keberatan tolong dikoreksi, ini Quora lah).

Lalu bagaimana dengan arah ke depan? Pemerintah sudah mengeluarkan omnibus law, dengan tujuan menarik investasi asing (FDI, Forein Direct Investment). Hanya saja ya, kalau dilihat dari sejarahnya sejak Indonesia ini berdiri sebagai republik, termasuk yang sangat tertutup (restriktif) dengan PMA (penanaman modal asing)/ FDI (foreign direct investment). Rendahnya investasi asing itulah yang membuat Indonesia tidak pernah menjadi bagian menarik dari global supply chains dan membuat perekonomian Indonesia relatif semakin tertutup.

Jadi kalau ada yang bertanya, kenapa Indonesia tidak sepopuler Thailand atau Singapura sebagai negara yang sering masuk Hollywood? Ya kemungkinan besar sejak negara ini ada, kita itu jarang berdagang dengan negara lain, wajar saja mereka tidak kenal Indonesia kan? Kalaupun ada perdagangan ekspor, itu kan sebagian besar komoditas bahan baku.

Jadi sebenarnya, orang-orang yang pegang uang lebih di Indonesia punya kecenderungan baik buat menginvestasikan kembali duit mereka di Indonesia, kebanyakan yang menjadi pelaku pasar riil di Indonesia adalah investor domestik.

Tetapi, yang bikin mata publik terbelalak adalah kasus Garuda (window dressing ya, bukan yang soal gundik dan Harley), Jiwasraya, Asabri, dan Bumiputera, ternyata selemah itu sistem tata kelola perusahaan di BUMN, ini menyedihkan, tetapi kita bersyukur ini dibuka ke publik (akhirnya).

Kasus terakhir yang KPU, dan beberapa skandal penegakan hukum di media mencederai kepercayaan pembayar pajak terhadap kinerja aparat penegak hukum dan politisi yang seolah masih pasang poker face saat bikin troll level nasional.

Jadi intinya, apakah arahnya sudah benar?

  1. Untuk kinerja mempertahankan tingkat inflasi sudah benar dan harus dipertahankan
  2. Untuk omnibus law dalam rangka menarik PMA nampaknya akan berat, ini akan jadi peluang buat PMDN justru
  3. Para pembayar pajak dan investor lokal sebenarnya sangat tercederai dengan kinerja aparat penegak hukum berikut politisi nasional, nah poin penegakan hukum ini yang paling tidak benar dan sebaiknya Pak Jokowi cepat sadar buat membereskan, tolong perkuat OJK, KPPU juga Pak
  4. Bereskan aparat yang mengurus perpajakan, terutama kualitas SDM, Pak Jokowi

Baca Juga