Saya khawatir tentang banyaknya orang yang belum memahami bahwa di saat-saat pandemi ini, menjaga jarak sosial atau social distancing sangatlah penting.

Mungkin kita sudah sering mendapat informasi tentang “melandaikan kurva” atau “flattening the curve”.

Bagaimana social distancing sangat penting untuk “flattening the curve”?

Seperti yang kita tahu, virus Covid-19 sangatlah menular, dan tidak ada tanda-tandanya dari beberapa hari sejak seseorang terinfeksi. Gejala bisa mulai muncul sampai di hari ke-5 atau 6.

Namun, sejak hari pertama terinfeksi hingga hari di mana gejala-gejala itu muncul, orang tersebut sudah dapat menulari orang lain walaupun orang itu masih terlihat sehat.

Itulah mengapa virus ini menyebar dengan cepat, karena biasanya orang baru akan periksa ketika sudah terjadi gejala-gejala, sementara dia sudah ke mana-mana sejak hari pertama terinfeksi dan telah menularkannya ke mana-mana.


Setiap rumah sakit memiliki kapasitas maksimal untuk jumlah pasien rawat inap yang dapat mereka tangani, baik dari tempat tidur, peralatan, maupun jumlah tenaga kesehatannya dan itu pun untuk semua penyakit, tidak hanya pasien Covid-19.

Bahkan sebelum masuknya pasien Covid-19, tempat rawat inap di rumah sakit pastinya sudah terisi dengan pasien-pasien lain (misalnya kecelakaan atau penyakit lainnya).

Misalkan lingkaran kecil kuning ini melambangkan seseorang yang sehat, sebut saja A.

Karena si A sehat, dia tidak merasa perlu mengisolasi diri atau social distancing.

Dia tetap bepergian dengan kendaraan umum. Dia tetap bekerja di kantor (tidak work from home).

Ternyata di kantor dia tertular Covid-19. Namun, si A tidak langsung sakit saat itu juga .

Karena si A merasa masih sehat, dia tetap bepergian ke tempat umum, misalnya dalam cerita ini dia pergi menonton pertandingan olahraga di stadion. Di sini, dia menularkan lagi ke dua atau tiga orang lainnya.

Kemungkinan besar orang yang dia tularkan hanya akan mengalami kasus ringan, namun bisa saja salah satu yang dia tularkan adalah orang yang sudah berusia lanjut, di mana orang tersebut akan membutuhkan perawatan intensif di rumah sakit.

Selama kapasitas rumah sakit masih mencukupi, pasien berusia lanjut tadi akan masih bisa mendapat perawatan.

Namun, bagaimana dengan orang lain yang tertular oleh si A? Mereka akan tetap berkegiatan seperti biasa (naik kendaraan umum, bekerja di kantor, dan pergi ke tempat-tempat umum). Kemudian, mereka akan menularkannya ke orang lain.

Akibatnya, semakin lama, semakin banyak orang yang akan tertular. Dan semakin banyak orang yang membutuhkan perawatan intensif di rumah sakit.

Di sinilah akan terjadi krisis, di mana kapasitas rumah sakit dan tenaga kesehatannya sudah tidak mampu lagi menampung jumlah pasien yang masuk (atau overcapacity).

Akan ada pasien Covid-19 yang gagal tertangani dengan baik, dan bisa jadi nyawanya tidak tertolong.

Selain itu, akan ada pasien kritis lain yang bukan penyakit Covid-19 yang mengalami nasib yang sama, tidak mendapatkan perawatan yang baik dan juga tidak tertolong.

Sebenarnya, kematian-kematian tadi dapat dihindari, apabila seluruh pihak menjaga agar kapasitas rumah sakit tidak kekurangan dan siap dalam menghadapi ledakan pasian.


Oleh karena itu, negara yang siap seperti Cina dengan segera membangun rumah sakit khusus untuk menghadapi lonjakan pasien Covid-19.

Nah, bagaimana dengan negara yang tidak siap baik secara infrastruktur maupun kapasitas rumah sakitnya?

Ini yang terjadi di Korea Selatan, Italia, dan Irak, di mana dari 100 pasien menjadi lebih dari 5.000 pasien dalam 2 minggu.

Banyak pasien yang meninggal karena tidak mendapat perawatan dengan baik.

Lonjakan pasien ini disebabkan oleh banyaknya orang yang “tidak merasa sakit”, padahal mereka sedang membawa virus Covid-19, dan tetap beraktivitas seperti biasa lalu menularkannya ke orang lain.

Nah, terus kalau kondisinya seperti ini, misalkan kita saat ini baik-baik saja, bagaimana kita tahu kita benar-benar sehat atau sebenarnya kita sedang membawa virus Covid-19? Jawabannya adalah kita tidak akan pernah tahu sampai kita diperiksa.

Oleh karena itu, untuk memperlambat penyebaran virus ini, bertindaklah selayaknya orang yang sudah terkena, yaitu dengan melakukan social distancing:

  • Menghindari kontak fisik (jabat tangan, cipika cipiki)
  • Menjaga jarak aman dengan orang lain minimal 1 meter
  • Menjauhi keramaian dan tidak berkumpul di suatu tempat dalam jumlah besar

Dengan melakukan social distancing, kamu akan mengurangi risikomu tertular Covid-19 sekaligus memperlambat penularan dari virus ini. Virusnya akan tetap menular, namun dengan kecepatan yang lebih lambat.

Dengan menurunnya kecepatan penularan ini, rumah sakit akan memiliki waktu dan kapasitas yang lebih lapang, sehingga harapannya semua orang akan mendapatkan perawatan yang layak.

Dan kurva kapasitas terhadap pasien pun akan tetap terjaga. Inilah yang disebut flattening the curve.

Di bawah ini adalah dua skenario yang bakal terjadi:

  1. Apabila ditangani dengan baik (kurva sebelah kanan)
  2. Apabila ditangani dengan tidak baik (kurva sebelah kiri)

Efektifkah social distancing dalam mengatasi wabah atau pandemi?

Ternyata cara ini pernah dilakukan di Amerika pada tahun 1918.

Philadelphia dan St.Louis sama-sama terkena pandemik flu, namun kedua kota tersebut menanggulanginya dengan cara yang berbeda.

Philadelphia tetap menyelenggarakan festival dan membiarkan orang berkerumun dalam jumlah besar.

Sementara di St. Louis, pemerintahnya menutup sekolah, bioskop, dan tempat-tempat umum untuk mencegah penularannya menjadi semakin cepat.

Akibatnya, di Philadephia banyak korban jiwa berjatuhan karena rumah sakit tidak mampu menerima lonjakan jumlah pasien. Sementara St.Louis dapat menghadapai pandemik ini tanpa banyak menelan korban jiwa.

Bagaimana kurvanya untuk kedua kota tersebut?

Seperti ini:


Jadi, sudah terbukti bahwa social distancing adalah cara yang efektif untuk memperlambat persebaran virus. Tidak perlu lockdown, cukup social distancing.

Oleh karena itu mari kita dukung gerakan social distancing (#WorkfromHome, #DiRumahAja, dsb).

Save yourself, save others.


Sumber gambar:

Vox : Why fighting the corona virus depends on you

Bonus:

Buat yang perlu informasi lebih lanjut terkait Corona, berikut beberapa resource bagus yang dapat membantu:

  • (Penjelasan bagus tentang kasus di Korea Selatan)
  • Coronavirus Cheatsheet
    • (Kumpulan resource informasi tentang Covid-19)

    Selain itu, kalau mau cari tools IT apa yang dapat membantu dalam bekerja dari rumah, ada di sini:

    Contents | Coronavirus Tech Handbook


    Baca Juga